Rabu, 09 Februari 2011

ILMU PERBANDINGAN AGAMA

PENDAHULUAN.
Religionsuissenschaft atau ilmu agamaa, sejak kemunculannya sebagai suatu disiplin keilmuan pada akhir abad ke-19, setahap demi setahap melengkapi identitas dirinya dengan ciri-ciri khas yang memperkuat dan memperjelas status sebagai pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu agama, objek kajiannnya semua agama-agama, baik agama pada masa lalu maupun pada masa sekarang. Sedangkan teologi pada dasarnya hanya mengkaji satu agama tertentu saja, yaitu agama yang di yakini kebenarannya. Jika mempelajari agama lain itupun menggunakan norma agama yang di yakini kebenarannya.
Dan muncullah ilmu perbandingan agama, yang bertujuan untuk memahami agama-agama yang ditelitinya secara ilmiah. Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang mempelajari tentang agama, sistem keyakinan, pribadatan, dan kelembagaan agama secara ilmiah dengan pendekatan holistik (secara menyeluruh, beragam). Secara ilmiah berarti ilmu perbandingan agama kajiannya terhadap agama yang bersifat indukatif karena kajian terhadap agama dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu lain, dan standar yang di gunakan secarah ilmiah artinya melihat gejala agama secara objektif maksudnya yang bersifat intersubjektif artinya kesinambungan antara doktrin agama dan teori ilmiah (sui generis cum doktrinner). Kemudian perbandingan bermakana sebagai aproach yang berarti metode, pendekatan dan teori bukan agamanya yang dibandingkan.









PEMBAHASAN.
A.   PENJELASAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA DAN SEJARAH NAMA ILMU PERBANDINGAN AGAMA..
1.      Penjelasan ilmu perbandingan agama.
Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang mempelajari tentang agama, sistem keyakinan, pribadatan, dan kelembagaan agama secara ilmiah dengan pendekatan holistik (secara menyeluruh, beragam). Secara ilmiah berarti ilmu perbandingan agama kajiannya terhadap agama yang bersifat indukatif karena kajian terhadap agama dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu lain, dan standar yang di gunakan secarah ilmiah artinya melihat gejala agama secara objektif maksudnya yang bersifat intersubjektif artinya kesinambungan antara doktrin agama dan teori ilmiah (sui generis cum doktrinner). Kemudian perbandingan bermakana sebagai aproach yang berarti metode, pendekatan dan teori bukan agamanya yang dibandingkan. Ilmu perbandingan agama adalah ilmu yang mempelajari tentang agama, sistem keyakinan, pribadatan, dan kelembagaan agama secara ilmiah dengan pendekatan holistik (secara menyeluruh, beragam). Secara ilmiah berarti ilmu perbandingan agama kajiannya terhadap agama yang bersifat indukatif karena kajian terhadap agama dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu lain, dan standar yang di gunakan secarah ilmiah artinya melihat gejala agama secara objektif maksudnya yang bersifat intersubjektif artinya kesinambungan antara doktrin agama dan teori ilmiah (sui generis cum doktrinner). Kemudian perbandingan bermakana sebagai aproach yang berarti metode, pendekatan dan teori bukan agamanya yang dibandingkan.
Ada juga yang berpendapat bahawa ilmu perbandingan agama adalah  salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan (agama) dalam hubungan dengan agama lain. Pemahaman ini mencakup persamaan dan perbedaannya. Selanjutnya dengan pembahasan tersebut, struktur yang asasi dari pengalaman keagamaan manusia dan pentingnya bagi hidup dan kehidupan di pelajari dan di nilai ( Ali, 1975: 5 ).


2.      Sejarah Ilmu Perbandingan Agama.
Ada pertanyaan yang keluar dari salah seorang, pertanyaannya sebagai berikut: mana yang luas cakupannya antara ilmu perbandingan agama dengan sejarah agama-agama? Yang jawabannya adalah cakupan ilmu perbandingan agama dengan sejarah agama-agama itu sama, karena dalam bahasa aslinya ilmu perbandingan pertama adalah Algemeine Religionswissenchaft ( AR ), kemudian namanya berkembang menjadi Science of Religion ( SR ), dan kemudian berkembang lagi menjadi History of Religion ( HR ) sampai sekarang.

·      Algemeine Religionswissenchaft ( AR ).
Algemeine Religionswissenchaft dulu di perkenalkan oleh Max Muller pada tahun 1867 M. Paradigma dasarnya adalah agama yang di jelaskan dengan menggunakan pendekatan ilmiah, indukatif, empiris, historis, dan fhologi, dan dengan pendekatan komparatif ( perbandingan ). Berbeda dengan filsafat dan teologi doktriner dengan menggunakan pendekatan dedukatif dan spekulatif. Tetapi Algemeine Religionswissenchaft tidak berkembang teorinya dalam menganalisis agama dan tidak spesialisasi dan diversifikasi.
·      Science of Religion ( SR ).
Algemeine Religionswissenchaft sebagai ilmu mengalami kesulitan dalam namanya dan metodologi sehingga Algemeine Religionswissenchaft lazim di kenal dengan nama Science of Religion. Science of Religion lebih mengedepankan pendekatan yang empiris keilmuan, kemudian Science of Religion lebih di perkaya dengan mengedepankan aspek fenomenologi, antropologi, sosiologi agama, dan filsafat agama.
·      History of Religion ( HR ).
History of Religion muncul sebagai bentuk spesialisasi dan diversifikasi metodologi yang di gunakan yaitu sejarah, fenomenologi, filologi, sosiologi, antropologi, dan lain-lain. History Of Religion adalah nama yang baku bagi ilmu agama umum samapai sekarang.


B.   METODE-METODE ILMU PERBANDINGAN AGAMA.
Ada beberapa metode yang di gunakan dalam ilmu perbandingan agama, antara lain sebagai berikut,
1.      Metode komparatif.
Dengan menggunakan metode koparatif , ilmu perbandingan agama meneliti dan mengkaji agama-agama untuk memahami persamaan dan perbedaannya. Karena yang di bandingkan itu bukan hanya dua agama, tetapi kadang banyak agama, maka dapat di ambil suatu generalisasi, bahwa semua agama memiliki sistem ritus dalam berkomunikasi dan beribadat pada Zat yang di percayai menguasai alam jagat raya ini, yang disebut Tuhan, atau Dewa.
2.      Metode ilmiah.
Ilmu perbandingan agama, sebagai suatu disiplin keilmuan dalam pengkajiannya dan penelitiannya dengan menggunakan metode ilmiah. Dalam hal ini, metode ilmiah di gunakan sesuai dengan tujuan penelitian dan objek ontologinya.
3.      Metode fenomenologi.
Ilmu agama adalah ilmu perbandingan agama dan fenomenologi agama. Keduanya merupakan disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda.
Sebagian sarjana ilmu agama mengatakan bahwa fenomenologi adalah identik dengan ilmu perbandingan agama. Fenomenologi agama merupakan sebutan lain dari ilmu perbandingan agama. Masalah-masalah agama yang menjadi fokus perhatian kedua disiplin keilmuan tersebut adalah sama.
Tetapi ada pendapat lain mengatakan bahwa ilmu perbandingan agama berbeda dengan fenomenologi agama, dan masing-masing merupakan disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perbedaan antara kedua disiplin itu bahwa masalah yang menjadi fokus penelitian ilmu perbandingan agama adalah persamaan, perbedaan, tipologi, klasifikasi, generalisasi, dan struktur asasi dari agama-agama. Sedangkan fenomenologi agama mengarahkan penelitiannya untuk memahami arti dan makna agamis ( relgius meaning ) dari fenomena-fenomena agama yang di kaji.
4.      Metode historis.
Dalam metode ini agama dikaji dari segi atau aspek periodesasi dan saling pengaruh antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Di sini dikaji asal-usul dan pertumbuhan pemikiran dan lembaga-lembaga agama melalui periode-periode perkembangan sejarah tertentu, serta memahami peranan kekuatan-kekuatan yang diperlihatkan oleh agama dalam periode tersebut.
Agama yang dikaji dalam metode ini bukan hanya agama secara keseluruhan, tetapi juga dapat dikaji aliran-aliran tertentu dari suatu agama maupun tokoh-tokoh tertentu dari suatu agama dalam periode tertentu dalam sejarah.
Bahan dalam kajian in biasanya mempergunakan bahan primer dan sekunder, baik yang bersifat literer (filologis) atau non-literer(arkeologis).

C.   PERKEMBANGAN ILMU PERBANDINGAN AGAMA.
1.      Perkembangan di Dunia Barat.
Pada masa Reformasi dan Renaissanse, Erasmus  (1469-1536 M) menulis tentang elemen-elemen agama kafir yang terdapat dalam peribadatan agama Roma Katolik dan ajaran-ajarannya.
Sejalan dengan semangat Rasionalisme, maka mulailah teori evolusi tentang asal-usul agama, dengan menolak adanya revelation (wahyu).
Selanjutnya diikuti dengan penelitian agama yang historis dari Duperon tentang agama Persia; William Jones tentang agama Sanskrit; Champollion tentang agama Mesir Lama; Rask tentang agama Persia dan India; Niebuhr, Botta, Layard dan lainnya menulis tentang agama Babilonia. Kemudian Ernest Renan (1822-1892) menjadi orang pertama yang menciptakan istilah “Comparative Study of Religion”.
Setelah itu ilmu baru ini mendapat sambutan yang hangat di berbagai Universitas di Barat. Sebelum penutup abad ke-19 sudah terdapat ahli-ahlinya di Belanda, Switzerland, Perancis, Italia, Denmark, Belgia dan Amerika. Setelah itu diterbitkanlah beberapa buku, majalah, dan diadakan beberapa konggres internasional.
Namun Ilmu Perbandingan Agama dalam arti yang sebenarnya lahir pada saat Max Muller (1823-1900) menulis beberapa karangannya tentang agama-agama. Oleh karena itu Max Muller dapat disebut sebagai bapak Ilmu Perbandingan Agama.
Ilmu Perbandingan Agama di Barat dapat berkembang dengan baik karena didukung oleh suasana dan semangat ilmiah yang baik dan dana yang memadai.
2.      Perkembangan di Dunia Islam.
Pada abad ke-11 ada salah seorang penulis besar dalam Islam, seorang yang bernegara spanyol yang bernama Ibnu Hazm.
Ibn Hazm membahas tentang agama Kristen dan Kitab Bible.

            Kemudian salah seorang penulis Muslim terkemuka, Muhammad Abdul Karim Asy-Syahrastani (1071-1143) menulis Kitab Al-Milal wan-Nihal (1127). Di dalam kitab tersebut ia membagi agama menjadi: Islam, Ahlul Kitab dan orang yang mendapatkan wahyu tetapi tidak tergolong Ahlul Kitab, yaitu orng-orang yang bebas berpikir dan ahli-ahli filasafat.

            Namun haruslah diakui bahwa perkembangan pebandingan agama di dunia Islam tidak luput dari apologi. Tulisan yang bersifat apologis ini tampak dalam tulisan Ahmad as-Sanhaji Qarafi (meninggal 1235) dalam bukunya  Al-Ajwibah al-Fakhirah an al-As’ilah al-Fajirah. Kitab ini merupakan jawaban terhadap buku Risalah ila Ahad al-Muslimin yang dikarang oleh Uskup dari Sidon. Muhammad Abduh menulis buku Al-Islam wan Nashraniyah ma’al ‘ilmi wal-Madaniyah, sebagai jawaban terhadap tulisan-tulisan Farah Antun dalam Al-Jami’ah. Masih banyak beberapa tulisan dari penulis Muslim yang bersifat apologis misalnya Husain Hirrawi, Syaikh Yusuf Nabbani, Ahmad Maliji, Muhammad Ali Maliji, Abdul Ahad Dawud, dsb. Di sini perlulah disebut karangan  apologis yang sangat baik, yaitu buku The Spirit of Islam, karangan Ameer Ali.

            Secara garis besar dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di dunia Islam kurang menguntungkan dibandingkan dengan Barat. Sebagian besar kitab yang dikarang oleh penulis Muslim bersifat apologis. Kitab-kitab yang membahas tentang agama lain banyak yang tidak orisinil sumbernya. Sedikit yang orisinil dan itupun hanya mengenai agama Kristen. ( Ali: 1975: 15-19).

            Di samping itu dunia Islam lebih mementingkan pengembangan ilmu-ilmu ke-Islaman (‘Ulumul Qur’an, ‘Ulumul Hadis, Ilmu Kalam, Fiqih, Tasawuf, dsb.) dan dakwah, dan kurang memperhatikan ilmu-ilmu agama yang bersifat empiris. Patut diperhatikan juga bahwa pada abad ke-19 beberapa Negara Islam dalam cengkeraman penjajahan Negara Barat, sehingga perhatian dipusatkan untuk pembebasan atau kemerdekaan negaranya dari penjajahan.

KESIMPULAN.

1. Ilmu Perbandingan Agama merupakan ilmu yang mengkaji agama-agama dengan menggunakan beberapa metode ilmiah dan dogmatis sekaligus (ilmiah-agamis, religio-scientific atau scientific-cum-doktrinair).
2. Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di Barat lebih menguntungkan dibandingkan di Dunia Islam dan di Indonesia.Perkembangan di Barat lebih menguntungkan karena didukung oleh suasana ilmiah yang kondusif dan dana yang cukup tersedia. Perkembangan di dunia Islam dan di Indonesia kurang menguntungkan di samping kurang kondosifnya suasana ilmiah juga masih kekurangan dana.
3. Ilmu Perbandingan Agama sangat bermanfaat bagi seorang Muslim, sebab dengan mempelajarinya dapat memahami agama-agama lain baik ajaran-ajarannya maupun perkembangan penafsiran dan lembaganya secara empiris. Selanjutnya dapat menemukan mutu manikam keunggulan ajaran Islam setelah dibandingkan dengan agama-agama lain. Akhirnya dapat digunakan sebagai dialog, kerukunan hidup beragama dan dakwah.

DAFTAR PUSTAKA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar